7 Penyebab Kemacetan Jakarta versi Engineer

Q : Kok kamu telat?

A : Macet, Bro.

Lagi-lagi macet yang dijadikan kambing hitam, padahal macet itu bukan sejenis kambing, tapi an**ng. Mengapa saya  menyimpulkan macet itu an**ng? Begini ceritanya…

Pada waktu itu, saya sedang mengendarai Revalina (motor saya) menuju Bogor dalam rangka mengunjungi seorang teman. Di persimpangan jalan menjelang memasuki kota Bogor, macet anj**g. Itu di Bogor, bagaimana dengan Jakarta? Beh…. (maaf saya gak ngatain kamu loooo….)

Sebagai seorang sarjana teknik sipil, kita harus turun tangan untuk membenahi kemacetan Jakarta. Kalaupun tidak bisa membantu secara fisik setidaknya kita masih bisa menyumbangkan otak kita. Karena rata-rata kita semua punya otak, bukan? Tapi jangan diartikan sebagai donor otak. Lagian apa enakanya otak kita, lebih enak otak-otak ikan tenggiri. Maksud saya otak tersebut kita gunakan untuk berpikir. Berpikir gimana caranya menyelesaikan kemacetan.

Q : Apakah dengan berpikir saja bisa menyelesaikan kemacetan?

A : Mikir aja macet gak selesai, apalagi gak mikir. Bukankah tindakan itu berawal dari pikiran/ide?

Apa saja penyebab macet di Jakarta? Akan kita ulas satu persatu secara tajam, setajam…. sikut…

  1. Jumlah pengguna jalan melebihi daya tampung jalan
Daya Tampung Melebihi Kapasitas
Daya Tampung Melebihi Kapasitas

Jumlah pengguna jalan tidak lagi sebanding dengan daya tampung jalan. Pertumbuhan kendaraan sudah melebihi kapasitas jalan yang ada. Oleh sebab itu terjadilah desak-desakan di jalanan. Jalanan yang penuh sesak mengakibatkan kecepatan kendaraan yang melintas menjadi berkurang. Berkurangnya kecepatan kendaraan bahkan sampai berhenti total artinya MACET.

Bukan jalannya yang kurang lebar, tapi kendaraannya yang bertambah tanpa kendali. Apalagi sekarang sangat mudah memiliki kendaraan. Uang belum cukup bisa nyicil. Rasio kepemilikan kendaraan 1 keluarga : 1 motor atau lebih. Orang lebih suka menggunakan kendaraan sendiri daripada naik kendaraan umum.

  1. Banyaknya persimpangan jalan
Persimpangan Jalan
Persimpangan Jalan

Setiap persimpangan jalan menyebabkan kemacetan. Kendaraan harus antri jika melewati persimpangan jalan. Banyaknya persimpangan yang memotong jalan-jalan utama kota yang selalu ramai saat-saat jam sibuk.

Q : Mengapa dipersimpangan jalan selalu macet?

A : Karena jika melewati persimpangan kita harus berhenti jika lampu sedang merah

Sebenarnya yang salah bukan persimpangannya, tetapi pengguna jalan yang tidak tertib. Mengapa harus banyak persimpangan jalan?

  1. Pelanggaran lalu-lintas
Pelanggaran Lalu Lintas
Pelanggaran Lalu Lintas

Masyarakat di kota besar seperti Jakarta sudah hilang kesabaran. Bagaimana tidak? Untuk menempuh jarak yang relatif dekat saja dibutuhkan waktu berjam-jam. Pelanggaran lalu lintaspun terjadi. Padahal, kalau kita mau tertib di jalan, jalanan pasti akan lancar. Pelanggaran seperti menerobos lampu lalu lintas, melewati jalur busway dan parkir kendaraan sembarangan sudah menjadi tontonan masyarakat Jakarta sehari-hari.

  1. Pasar tumpah dan Pedagang kaki lima
Pasar Tumpah dan PKL
Pasar Tumpah dan PKL

Pasar tumpah dan pedagang kaki lima  itu 11 12 (sebelas duabelas). Hampir sama saja tingkah lakunya. Kalau pasar tumpah menguasai bahu jalan sedangkan pedagang kaki lima menguasai trotoar pejalan kaki. Akibatnya pejalan kaki tidak punya tempat untuk jalan kaki, akhirnya mereka berjalan di bahu jalan, ternyata penyebab macetnya adalah pejalan kaki yang berjalan di bahu jalan. Nah.

  1. Penyeberang jalan yang nakal
Penyeberang Jalan yang nakal
Penyeberang Jalan yang nakal

Penyeberang jalan yang tidak menyeberang pada tempatnya sering juga menyebabkan kemacetan bahkan kecelakaan. Padahal sudah disediakan jembatan penyeberangan dan zebra cross. Apakah jembatan itu hanya sebagai monumen hiasan. Apakah zebra cross itu cuma graviti murahan? Mereka seenaknya menyeberangi jalan dengan mengabaikan keselamatan. Kalau terjadi kecelakaan (ketabrak mobil), yang disalahkan tetap mobilnya, padahal kan mobil gak bisa jalan sendiri tanpa supir.

  1. Angkutan umum ngetem/berhenti sembarangan
Berhenti tidak pada tempatnya
Berhenti tidak pada tempatnya

Angkot dan bus sering kali ugal-ugalan di jalan. Ngetem/berhenti pada tempat yg sangat krusial (seperti persimpangan jalan) karena menunggu penumpang. Penumpangnya juga salah, menunggu angkutan kok di persimpangan jalan. Seperti fenomena ayam dan telur. Mana yang duluan. Angkotnya yang duluan berhenti dipersimpangan cari penumpang atau penumpangnya yang berhenti dipersimpangan menunggu angkot.

  1. Banjir
Macet karena Banjir
Macet karena Banjir

Banjir juga turut menyumbang kemacetan parah. Karena banjir menyebabkan laju kendaraan berkurang. Ada juga kendaraan yang mati total jalanan yang terendam banjir.

Solusi dari ke 7 permasalahan di atas akan kita bahas pada artikel selanjutnya. Terimakasih sudah menyempatkan membaca.
Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Silakan lihat artikel lainnya…

2 thoughts on “7 Penyebab Kemacetan Jakarta versi Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s